Tumpukan Dry Powder Investor di Balik Perlambatan Investasi Startup Indonesia

17 Mar 2026

Pendanaan startup global dan regional masih bergerak lambat pada 2025, meskipun investor secara agregat belum mengalami kekurangan likuiditas. Data S&P Global Market Intelligence menunjukkan bahwa investor ekuitas privat (private equity) dan modal ventura (venture capital/VC) masih menyimpan cadangan modal atau dry powder dalam jumlah besar, di tengah perlambatan aktivitas investasi dan penggalangan dana.

Per Maret 2025, dry powder dari private equity global tercatat sekitar US$2,18 triliun (sekitar Rp36,62 kuadriliun). Nilai itu hanya sedikit turun dari rekor tertinggi pada akhir 2023 sebesar US$2.305 triliun (sekitar Rp38.638 kuadriliun). Angka ini menunjukkan bahwa secara agregat, modal investasi belum mengering, meskipun aktivitas penyalurannya melambat.

S&P Global menilai perlambatan tersebut lebih disebabkan oleh meningkatnya kehati-hatian investor di tengah tekanan makroekonomi, tertundanya exit, serta koreksi valuasi aset berisiko. Selama periode 2022–2024, penggalangan dana global mengalami penurunan berturut-turut, sementara proses divestasi berjalan lebih lambat.

Dalam konteks tersebut, perlambatan pendanaan startup di Indonesia dapat dibaca sebagai bagian dari dinamika global, bukan fenomena yang berdiri sendiri. Gambaran tersebut tecermin dalam grafik pendanaan startup Indonesia periode 2019 hingga 2025 yang dihimpun Tech in Asia

Setelah mencapai puncaknya pada 2021, nilai pendanaan turun signifikan pada tahun-tahun berikutnya. Jumlah kesepakatan ikut menurun, meskipun tidak sedalam penurunan nilai investasinya. 

Penurunan nilai pendanaan yang lebih cepat dibandingkan frekuensi transaksi menunjukkan bahwa aktivitas investasi tidak sepenuhnya berhenti. Investor masih melakukan kesepakatan, tetapi dengan ukuran yang lebih kecil. Pola ini tecermin dari grafik rata-rata nilai investasi per kesepakatan, yang menunjukkan penyusutan ukuran transaksi sejak 2022 dan belum kembali ke level sebelum koreksi pasar.

Mengecilnya ukuran transaksi memperlihatkan peningkatan kehati-hatian investor, sebagaimana tergambar dalam data pendanaan beberapa tahun terakhir. Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, investor cenderung menurunkan eksposur modal per investasi, memperketat proses seleksi, serta menghindari komitmen berskala besar.

Pola tersebut berbeda dengan kondisi ketika pasar benar-benar mengalami kekurangan modal. Dalam situasi tersebut, jumlah kesepakatan biasanya menurun, tetapi ukuran transaksi relatif bertahan, karena investor hanya masuk ke aset yang dianggap paling aman. 

Perilaku ini juga tecermin dalam sejumlah laporan global. EY mencatat bahwa meskipun total pendanaan masih relatif terjaga pada awal 2025, jumlah kesepakatan terus menurun seiring investor menjadi lebih selektif. 

Sementara itu, InnoVen Capital melaporkan bahwa investor cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan modal, dengan fokus pada startup yang memiliki fundamental bisnis lebih kuat, meskipun ukuran pendanaan di beberapa tahap tetap meningkat.

Di Indonesia, selektivitas itu terlihat dalam penurunan frekuensi dan ukuran transaksi pendanaan startup, yang menunjukkan bahwa perlambatan lebih berkaitan dengan penahanan keputusan investasi. Untuk membaca dampak selektivitas ini secara lebih menyeluruh, perubahan ritme pasar dapat dilihat melalui indeks aktivitas investasi.

Indeks tersebut digunakan untuk menggambarkan intensitas pendanaan dari waktu ke waktu dengan menjadikan tahun 2019 sebagai titik acuan atau basis indeks. Dengan pendekatan ini, pergerakan nilai pendanaan dan jumlah kesepakatan dapat dibaca sebagai perubahan relatif terhadap kondisi sebelum fase ekspansi ekosistem startup.

Indeks aktivitas menunjukkan lonjakan tajam pada 2021 dan mencapai puncaknya pada 2022, sebelum menurun secara konsisten hingga 2025. Penurunan indeks menggambarkan melemahnya intensitas pasar, bukan hilangnya aktivitas investasi. Aktivitas pendanaan masih berlangsung, tetapi tidak seintens periode euforia sebelumnya ketika modal mengalir cepat dan valuasi meningkat agresif.

Sementara itu, di tingkat regional, perlambatan tersebut berlangsung di tengah ketersediaan modal yang relatif besar. Laporan Asia Pacific Private Equity Report 2025 dari Bain & Company mencatat bahwa total dry powder dari investor private equity di Asia Pasifik meningkat konsisten sejak 2019 dan mencapai puncaknya pada 2023.

Pada pertengahan 2024, Bain memperkirakan dry powder mulai menurun. Namun, hal ini bukan disebabkan oleh lonjakan aktivitas investasi, melainkan oleh melemahnya penggalangan dana baru. Fundraising oleh private equity di Asia Pasifik turun sekitar 22 persen pada 2024, yang mencerminkan meningkatnya kehati-hatian limited partners (LP) institusional global di tengah kondisi makroekonomi yang menantang.

Meski menurun, level dry powder Asia Pasifik masih berada di atas rata-rata pra-pandemi. Kondisi ini menunjukkan bahwa likuiditas investor secara agregat belum sepenuhnya mengering, meskipun tekanan untuk menyalurkan modal semakin besar di tengah terbatasnya peluang investasi yang memenuhi standar risiko dan valuasi.

Pandangan serupa disampaikan oleh pelaku industri modal ventura global. Partner Sequoia Capital Roelof Botha menyebut, industri VC saat ini menghadapi ketidakseimbangan struktural.

“Saya pikir ada masalah besar di industri VC. Terlalu banyak uang,” kata Botha seperti dilaporkan Business Insider. Dia menggambarkan kondisi tersebut sebagai risiko berinvestasi tanpa pengembalian, ketika terlalu banyak modal mengejar terlalu sedikit perusahaan berkualitas.

Menurut Botha, kondisi ini membuat investor semakin sensitif terhadap harga dan risiko, terutama pada pendanaan tahap lanjut yang membutuhkan komitmen modal besar. Putaran pendanaan yang sebelumnya relatif mudah kini lebih sering tertunda atau mengalami penyesuaian valuasi, seiring meningkatnya kehati-hatian investor global.

Data pendanaan startup Indonesia yang diolah Tech in Asia menunjukkan pola yang sejalan dengan dinamika perlambatan pasar dalam beberapa tahun terakhir. Jika dilihat berdasarkan tahapan investasi, pendanaan tahap awal (seed dan pre-seed) secara konsisten menjadi kontributor terbesar jumlah transaksi sepanjang periode 2019–2025. 

Meskipun sempat melonjak tajam pada 2022, jumlah transaksi tahap awal mengalami penurunan signifikan setelahnya, terutama pada 2023-2025. Ini mencerminkan dampak pengetatan modal secara luas di ekosistem startup.

Sebaliknya, pendanaan tahap lanjut, khususnya Seri A dan Seri B ke atas, menunjukkan tekanan yang lebih besar. Setelah mencapai puncak pada 2021 dan relatif bertahan pada 2022, jumlah transaksi di tahap ini menurun tajam pada 2023 dan terus melemah hingga 2025. 

Di luar pendanaan berbasis ekuitas, kesepakatan nonekuitas, seperti strategic investment, venture debt, grant, dan bridge financing menunjukkan pola yang relatif lebih stabil dibandingkan pendanaan ekuitas. Meski sempat meningkat pada 2021 dan 2022, jumlah transaksi nonekuitas juga mengalami koreksi pada 2023–2025, tetapi tidak sedalam penurunan pada pendanaan tahap lanjut. 

Ini mengindikasikan bahwa investor masih menyalurkan modal, tetapi melalui struktur yang lebih defensif dan fleksibel. Kondisi tersebut seiring meningkatnya kehati-hatian terhadap risiko valuasi dan ketidakpastian pasar.

Sumber: Tech in Asia

Baca artikel lainnya