Pembahasan tentang peran perempuan dalam dunia startup perlu ditempatkan dalam konteks dinamika pendanaan global yang masih menunjukkan ketimpangan. Laporan Founders Forum Group mencatat, lebih dari 80 persen pendanaan startup masih mengalir kepada pendiri laki-laki sepanjang periode 2024–2025. Sementara, porsi bagi pendiri perempuan berada jauh di bawahnya. Data ini menggambarkan bahwa distribusi akses terhadap modal dalam ekosistem teknologi dunia belum tersebar secara seimbang.
Secara nominal, data Tech in Asia menunjukkan bahwa startup yang didirikan atau dipimpin perempuan sepanjang periode 2024–2025 menghimpun pendanaan sekitar US$304,66 juta (sekitar Rp5,44 triliun). Sementara itu, startup yang didirikan laki-laki kembali mendominasi dengan total pendanaan mencapai sekitar US$1,23 miliar (sekitar Rp21,93 triliun) pada periode yang sama. Kesenjangan ini menegaskan bahwa dari sisi nilai pendanaan, akses permodalan bagi pendiri perempuan masih terpaut cukup jauh dibandingkan rekan laki-laki mereka.
Jumlah startup lokal yang didirikan perempuan menunjukkan perkembangan yang semakin pesat sejak pertengahan 2010-an. Setelah bertahun-tahun tumbuh secara perlahan, jumlah startup baru yang lahir dari pendiri perempuan melonjak dari 15 startup pada 2014 menjadi 27 startup pada 2015.
Pertumbuhan tersebut berlanjut dalam beberapa tahun berikutnya dan mencapai puncak pada 2020 dengan 29 startup baru. Meski sempat mengalami fluktuasi, jumlah startup yang didirikan perempuan tetap bertahan pada level relatif tinggi sepanjang 2017–2022, berkisar antara 17 hingga 22 startup per tahun.
Setelah mencapai puncaknya pada 2020, tren pendirian startup perempuan mulai melandai. Jumlah startup baru turun menjadi 20 pada 2021 dan 22 pada 2022, sebelum merosot cukup tajam menjadi hanya empat startup pada 2023. Pada 2024, jumlahnya sedikit meningkat menjadi lima startup, namun masih jauh di bawah level yang tercatat pada periode puncak beberapa tahun sebelumnya.
Dinamika ini menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam ekosistem startup Indonesia sempat mengalami akselerasi kuat pada pertengahan hingga akhir 2010-an sebelum kembali melandai dalam beberapa tahun terakhir.
Apabila dilihat dari bidang usaha yang digeluti, konsentrasi startup dengan pendiri perempuan paling banyak berada pada sektor perdagangan, diikuti media, kesehatan, hingga finansial. Sementara itu, sektor seperti teknologi hijau, manufaktur, hingga pariwisata muncul dalam jumlah yang lebih terbatas.
Distribusi ini memperlihatkan kecenderungan keterlibatan perempuan pada sektor yang memiliki kedekatan langsung dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat, sekaligus menunjukkan keberagaman ruang inovasi yang mulai dijajaki di luar sektor tradisional tersebut.
Secara umum, pola sektor yang digeluti pendiri perempuan di Indonesia tidak menunjukkan perbedaan mencolok dibandingkan dengan tren global. Baik di tingkat global maupun domestik, laporan Founders Forum Group memperlihatkan keterlibatan perempuan cenderung lebih kuat pada sektor yang berorientasi langsung pada kebutuhan konsumen dan layanan, seperti perdagangan, kesehatan, pendidikan, media, serta produk konsumer.
Sebagai gambaran lebih konkret, sejumlah startup lokal yang dipimpin atau didirikan oleh perempuan menunjukkan latar belakang serta bidang usaha yang beragam, sebagaimana terlihat dari daftar nama founder perempuan di berbagai sektor berikut.
Kehadiran nama-nama tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam ekosistem startup Indonesia tidak bersifat sporadis, melainkan telah membentuk jaringan kontribusi yang nyata di berbagai sektor. Partisipasi ini tidak hanya terlihat dari jumlah founder yang terus bertambah, tetapi juga dari ragam peran strategis yang mereka jalankan.
Dengan latar belakang industri yang beragam, keterlibatan tersebut turut mencerminkan semakin terbukanya ruang kepemimpinan bagi perempuan dalam mendorong pertumbuhan dan dinamika ekosistem kewirausahaan digital di Indonesia.




