Kurun waktu satu dekade terakhir menjadi fase pendewasaan krusial bagi ekosistem startup Indonesia. Jika pada masa-masa awal pengembangan startup bertumpu kepada pertumbuhan pengguna dan pendanaan, kini orientasinya telah bergeser ke pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana dan kapan likuiditas benar-benar dapat terealisasi?
Dalam konteks tersebut, dua jalur exit paling terukur dan terdokumentasi adalah penawaran umum perdana alias initial public offering (IPO) serta merger & akuisisi (M&A). Berdasarkan data yang dihimpun Tech in Asia sepanjang 2016–2025, keduanya tidak bergerak dalam pola yang sama, baik dari sisi siklus tahunan, ukuran transaksi, maupun distribusi sektoral.
Tren IPO perusahaan teknologi di BEI menunjukkan satu anomali besar dalam satu dekade terakhir: lonjakan nilai penggalangan modal yang ekstrem pada 2021.
Lonjakan nilai IPO pada 2021–2022 tidak semata disebabkan oleh peningkatan jumlah perusahaan yang melantai, melainkan oleh perubahan komposisi dan skala emiten. Pada periode tersebut, rata-rata dana yang dihimpun per perusahaan melonjak tajam dibanding tahun-tahun sebelumnya, didorong oleh pencatatan perusahaan teknologi berstatus unicorn yang telah berada pada tahap pertumbuhan lanjut dan memiliki valuasi besar.
Kehadiran emiten seperti Bukalapak pada 2021 dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk pada 2022 secara signifikan mengerek nilai agregat penghimpunan dana serta rata-rata dana IPO per emiten. Dengan demikian, anomali pada periode tersebut lebih tepat dipahami sebagai efek konsentrasi transaksi berukuran jumbo, bukan sekadar momentum pasar dalam arti siklus tahunan.
Sebaliknya, pada 2023 jumlah IPO meningkat, tetapi tanpa kehadiran emiten unicorn di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ini menjelaskan mengapa frekuensi pencatatan lebih tinggi, kendati nilai agregat dan rata-rata dana yang berhasil dihimpun per emiten jauh lebih rendah.
Selain itu, pada periode 2021–2023, pasar modal Indonesia berada dalam fase ekspansif. Likuiditas global yang masih tinggi pascapandemi serta minat investor terhadap sektor teknologi mendorong gelombang IPO, termasuk dari perusahaan berukuran besar. Dalam periode ini, regulasi pencatatan saham di BEI relatif stabil, sehingga perusahaan yang telah siap secara bisnis dan tata kelola dapat melantai tanpa hambatan di luar persyaratan yang berlaku.
Memasuki 2024, arah kebijakan mulai bergeser. BEI menegaskan akan memperketat seleksi calon emiten, terutama terkait kualitas kinerja keuangan, tata kelola, dan kecukupan porsi free float yang benar-benar beredar di publik. Langkah ini diambil setelah muncul volatilitas harga pada sejumlah saham IPO dan meningkatnya perhatian terhadap perlindungan investor, sebagaimana disampaikan manajemen BEI dalam sejumlah pemberitaan resmi sepanjang 2024.
Perubahan pendekatan ini membuat lanskap IPO setelah tahun 2023 terasa lebih selektif. Jika sebelumnya pasar didorong oleh ekspansi dan minat investor yang kuat, maka periode berikutnya lebih menekankan kualitas dan kesiapan fundamental perusahaan sebelum masuk ke bursa.
Berbeda dengan IPO yang dalam periode tertentu didorong oleh kehadiran emiten berukuran besar, aktivitas M&A dalam satu dekade terakhir cenderung lebih tersebar dari tahun ke tahun. Dalam beberapa periode, jumlah transaksi meningkat tanpa diikuti lonjakan nilai yang sebanding. Sementara pada periode lainnya, nilai transaksi terdorong oleh satu atau dua kesepakatan berukuran besar.
Secara sektoral, transaksi M&A tercatat paling banyak terjadi di sektor finansial dan konsumer dibandingkan sektor lain, seperti teknologi infrastruktur digital, pendidikan, atau agrikultur. Data menunjukkan kedua sektor tersebut konsisten menyumbang porsi signifikan terhadap total jumlah kesepakatan, serta beberapa di antaranya mencatat nilai transaksi yang relatif besar dalam periode pengamatan.
Sektor finansial memang cenderung aktif dalam M&A karena perusahaan di industri ini sering menggunakan akuisisi untuk memperbesar skala usaha dan menambah kemampuan baru, terutama di tengah persaingan dan perubahan teknologi. McKinsey menjelaskan bahwa kebangkitan M&A di sektor jasa keuangan secara global banyak didorong oleh kebutuhan meningkatkan skala dan kapabilitas, dengan transaksi yang lebih strategis dan bernilai besar.
Di sektor konsumer, PwC mencatat bahwa aktivitas M&A tetap berjalan meskipun kondisi ekonomi belum sepenuhnya stabil. Nilai transaksi tetap kuat karena perusahaan menggunakan akuisisi untuk memperluas portofolio merek atau produk, serta menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen.
Adapun, IPO dan M&A punya perbedaan karakteristik yang mendasar. IPO menuntut kesiapan tata kelola tinggi, keterbukaan informasi berkelanjutan, dan sangat dipengaruhi kondisi pasar modal. Perusahaan tetap berdiri sebagai entitas independen dengan kepemilikan publik.
Sebaliknya, M&A lebih fleksibel secara struktur dan sering kali berujung pada perubahan kendali atau integrasi ke dalam entitas pengakuisisi. Likuiditas bagi investor umumnya terealisasi saat transaksi selesai.
Mengapa Fokus pada IPO dan M&A?
Secara teori, exit startup tidak terbatas pada IPO dan M&A. Secondary sale, buyback saham, maupun management buyout juga merupakan opsi. Namun, dalam konteks analisis ekosistem nasional, IPO dan M&A dipilih karena:
- Keduanya paling transparan dan terdokumentasi
- Keduanya mencerminkan perubahan struktural kepemilikan
- Keduanya menjadi indikator nyata sirkulasi modal dalam ekosistem
Selain itu, IPO dan M&A umumnya melibatkan nilai transaksi yang terpublikasi secara luas, sehingga memungkinkan perbandingan lintas waktu maupun lintas sektor secara lebih konsisten. Data yang tersedia dari prospektus, keterbukaan informasi, hingga laporan regulator memberikan basis kuantitatif yang relatif seragam untuk dianalisis secara historikal.
Di sisi lain, kedua mekanisme ini juga menandai fase transisi penting dalam siklus hidup perusahaan, baik dari perusahaan tertutup menjadi terbuka, maupun dari kepemilikan lama ke entitas strategis baru. Karena itu, IPO dan M&A sering digunakan dalam berbagai studi ekosistem sebagai penanda kematangan perusahaan serta sebagai refleksi dinamika aliran modal yang dapat diukur secara agregat.




