Pendanaan startup di Indonesia mengalami perlambatan dalam beberapa tahun terakhir. Setelah mencapai puncaknya pada 2021, nilai investasi menurun signifikan beberapa tahun berikutnya. Sementara, aktivitas transaksi masih berlangsung, meski dengan skala yang lebih terbatas dibandingkan masa ekspansi.
Data pendanaan yang dihimpun Tech in Asia menunjukkan bahwa lonjakan besar pada 2021 menjadi titik tertinggi dalam satu dekade terakhir. Setelah itu, nilai investasi turun tajam dan belum kembali ke level sebelumnya. Jumlah kesepakatan juga ikut menurun, meskipun tidak sedalam koreksi nilai investasi.
Perbedaan laju penurunan antara nilai dan frekuensi transaksi mengindikasikan bahwa aktivitas investasi tidak sepenuhnya berhenti. Kesepakatan masih terjadi, tetapi dengan ukuran pendanaan yang lebih kecil. Pola ini mencerminkan perubahan pendekatan investor dalam menyalurkan modal di tengah kondisi pasar yang lebih berhati-hati.
Dalam lima tahun terakhir, mayoritas pendanaan startup di Indonesia secara konsisten berada di tahap awal, khususnya Seed & Pre-seed. Berdasarkan data yang sama, porsi pendanaan di tahap ini berada di kisaran 40–46 persen sepanjang 2019–2024. Angkanya jauh lebih besar dibandingkan pendanaan tahap lanjutan seperti Seri A maupun Seri B+, yang masing-masing umumnya berada di bawah 20 persen.
Namun, perubahan pola distribusi terlihat lebih jelas pada 2025. Porsi Seed & Pre-seed turun menjadi 28 persen, sementara Pra-Seri A meningkat tajam hingga 28 persen, jauh di atas kisaran 5–11 persen pada periode 2019–2024.
Dengan komposisi tersebut, pendanaan tahap awal secara keseluruhan tetap menjadi bagian terbesar dari total pendanaan pada 2025. Setidaknya, pola ini mencerminkan pergeseran komposisi dalam tahap awal, yang berkembang dari tren pada beberapa tahun sebelumnya.
Adapun, perlambatan pendanaan startup tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Asia Tenggara, tren serupa juga terlihat setelah kawasan ini mencatat lonjakan signifikan pada 2021. Pola ini memperkuat gambaran bahwa perlambatan terjadi secara luas di kawasan, bukan hanya bersifat lokal.
Dibandingkan dengan Indonesia, dinamika pendanaan di tingkat regional menunjukkan tekanan yang lebih merata. Di Asia secara keseluruhan, perlambatan tidak hanya terlihat dari pertumbuhan nilai investasi yang terbatas, tetapi juga dari menyusutnya jumlah transaksi. Hal ini setidaknya menandakan bahwa tekanan pendanaan bersifat lebih luas dan terjadi secara regional, bukan hanya dialami oleh satu negara tertentu.
Menurut laporan KPMG Global VC Investment 2025, investasi modal ventura di kawasan Asia hanya meningkat tipis dari sekitar US$21,2 miliar (sekitar Rp356,37 triliun) pada Q3/2025 menjadi US$21,4 miliar (sekitar Rp359,37 triliun) pada Q4/2025. Namun, pada periode yang sama jumlah transaksi justru turun signifikan dari 3.132 menjadi 2.474 kesepakatan. KPMG juga mencatat bahwa tingkat investasi tersebut masih berada jauh di bawah rata-rata historis kawasan, menunjukkan bahwa pemulihan belum berlangsung secara kuat.
Menariknya, kondisi ini terjadi ketika investasi VC global justru meningkat secara kuartalan, dari US$125,6 miliar (sekitar Rp2,11 kuadriliun)menjadi US$138,1 miliar (sekitar Rp2,32 kuadriliun). Artinya, kenaikan pendanaan global belum terdistribusi secara merata ke seluruh kawasan. Sebagian besar peningkatan tersebut terkonsentrasi di wilayah tertentu, sementara Asia masih bergerak terbatas di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.
Exit Masih Jadi Pertimbangan Investor
Lesunya pendanaan startup di Indonesia terutama disebabkan oleh macetnya jalur exit. Data menunjukkan bahwa merger dan akuisisi (M&A) semakin jarang terjadi, baik dari sisi jumlah maupun nilai transaksinya. Aktivitas M&A perusahaan teknologi di Indonesia cenderung tidak konsisten dan bergantung pada segelintir transaksi besar.
Selain itu, data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa aktivitas pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) startup dan perusahaan teknologi mengalami tekanan setelah sempat melonjak pada 2021. Tahun tersebut menjadi puncak nilai dana IPO perusahaan teknologi dalam periode pengamatan.
Pada tahun-tahun berikutnya, nilai dana IPO menurun, meskipun jumlah perusahaan teknologi yang melantai di bursa sempat meningkat. Pola ini menunjukkan bahwa IPO tetap berlangsung, tetapi dengan skala penggalangan dana yang lebih kecil.
Memasuki 2024 hingga 2025, tekanan terlihat lebih jelas. Jumlah IPO perusahaan teknologi menurun, sementara nilai dana yang dihimpun berada di level terendah. Data IPO tersebut menjadi salah satu konteks yang memperjelas kehati-hatian investor melihat jalur exit dari perusahaan teknologi, terutama setelah periode ekspansi agresif pada awal dekade.
Menurut Venture Partner Init 6 Rexi Christopher, exit menjadi hal penting dalam menilai peluang likuiditas dan pengembalian investasi startup ke depan. Apalagi, siklus hidup dana investasi VC biasanya hanya 8-10 tahun. Setelah masa tersebut, VC perlu mengembalikan modal yang mereka dapatkan dari para limited partners dengan keuntungan berlipat ganda.
“Akhirnya banyak investor yang kesulitan mencari exit strategy ini,” kata Rexi kepada Tech in Asia.
Meski tekanan pendanaan masih terasa, sejumlah analis melihat peluang perbaikan mulai terbuka menuju 2026. Penurunan suku bunga global yang mulai terjadi serta meredanya tekanan inflasi dinilai memberi ruang bagi pulihnya aktivitas pasar modal, termasuk potensi kebangkitan IPO di sektor teknologi. Walaupun pemulihan sentimen tidak akan berlangsung secara instan, kondisi eksternal yang lebih stabil mulai menciptakan ekspektasi baru di kalangan pelaku industri.
Partner di Redseer Strategy Consultants, Roshan Behera menilai bahwa hambatan yang sebelumnya menahan perusahaan untuk melantai di bursa kini tidak lagi seintens beberapa tahun terakhir. "Jadi kami akan sedikit lebih optimistis terhadap potensi IPO startup teknologi tahun depan,” ujarnya.
Sejalan dengan pandangan tersebut, data Tech in Asia menunjukkan terdapat sekitar 24 startup di Asia Tenggara yang telah mengumumkan atau dirumorkan memiliki rencana IPO, dengan sekitar sembilan perusahaan menargetkan pencatatan pada 2025–2026. Dari jumlah itu, ada tiga startup asal Indonesia yang dikabarkan bakal melantai di bursa dalam beberapa tahun ke depan, meliputi IDN, Shipper, dan Traveloka.
Ini mengindikasikan bahwa minat menuju pasar publik masih terjaga. Meski demikian, hal itu bakal dilakukan dengan semakin tingginya standar dan tuntutan fundamental yang lebih kuat dibanding periode ekspansi sebelumnya.




