Peta Sebaran Startup di Indonesia per Provinsi

13 Mar 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan startup di Asia. Predikat ini bukan sekadar klaim, melainkan didukung oleh data. Berdasarkan Startup Ranking per Mei 2026, Indonesia tercatat memiliki 3.195 startup dan menempati peringkat keenam dunia.

Peringkat tersebut disusun berdasarkan kekuatan dan visibilitas digital startup di masing-masing negara, dengan mempertimbangkan indikator seperti popularitas situs web, kehadiran online, serta performa digital perusahaan rintisan. 

Capaian ini menempatkan Indonesia di atas sejumlah negara maju seperti Jerman dan Prancis, sekaligus mempertegas perannya sebagai salah satu ekosistem startup terbesar di Asia. Namun, di balik skala dan visibilitas global tersebut, distribusi startup di dalam negeri masih belum merata. Aktivitas inovasi dan pendanaan masih sangat terkonsentrasi di DKI Jakarta, yang menampung lebih dari 700 perusahaan rintisan, jauh melampaui provinsi lainnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Tech in Asia, Jakarta menjadi pusat utama ekosistem startup nasional dengan menampung lebih dari 794 perusahaan rintisan. Angka ini jauh melampaui wilayah lain di Indonesia dan menegaskan posisi Jakarta sebagai episentrum inovasi, pendanaan, serta pengembangan teknologi. Konsentrasi tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan startup di Indonesia belum terdistribusi secara merata, baik antarprovinsi maupun antarkawasan.

Di luar Jakarta, sejumlah provinsi di Pulau Jawa mulai membentuk kantong pertumbuhan, meskipun skalanya masih relatif kecil. Sementara di luar Jawa, jumlah startup cenderung sangat terbatas, bahkan beberapa provinsi hanya mencatat satu hingga dua entitas. Pola ini menegaskan bahwa akses terhadap modal, talenta, dan ekosistem pendukung masih terpusat di wilayah tertentu, terutama Jakarta dan sekitarnya.

Ketimpangan sebaran startup ini berkaitan erat dengan kesiapan digital di tingkat daerah. Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 menunjukkan bahwa provinsi dengan skor digital tertinggi umumnya merupakan wilayah yang juga memiliki aktivitas startup lebih intens. 

DKI Jakarta menempati peringkat pertama dengan skor 56,97, disusul Kepulauan Bangka Belitung (52,15), Jawa Barat (52,05), Jawa Tengah (51,19), dan DI Yogyakarta (51,13). Tingginya skor ini mencerminkan kombinasi literasi digital, akses infrastruktur, serta tingkat adopsi teknologi yang lebih baik, yang menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan startup.

Menariknya, peta sebaran startup Indonesia tidak hanya berhenti di dalam negeri. Data Tech in Asia menunjukkan adanya sejumlah startup Indonesia yang mendirikan atau mengoperasikan entitas bisnis di luar negeri, termasuk di Singapura. Dalam beberapa kasus, Singapura bahkan menjadi lokasi penempatan kantor pusat, seperti yang dilakukan oleh Traveloka, PlayGame, dan Peris.ai. Di luar itu, terdapat pula startup Indonesia yang memperluas kehadiran bisnisnya melalui pembukaan kantor atau entitas operasional di Singapura, di antaranya GoTo, J&T, Xendit, hingga Kopi Kenangan.

Pilihan Singapura sebagai kantor pusat maupun lokasi ekspansi bukan tanpa alasan. Selain kedekatan geografis dan pasar regional Asia Tenggara yang terintegrasi, Singapura menawarkan lingkungan bisnis yang jauh lebih kondusif bagi startup. Keberadaan investor global, akses ke jaringan pendanaan internasional, serta reputasi sebagai pusat teknologi Asia menjadikan Singapura pintu masuk strategis bagi startup Indonesia yang ingin melakukan scale-up.

Preferensi startup Indonesia untuk mendirikan kantor di Singapura juga dapat dilihat dari perbandingan kemudahan berbisnis di kawasan. Laporan bertajuk Business Ready yang dirilis World Bank pada 2025 memperlihatkan jarak paling mencolok antara Indonesia dan Singapura berada pada aspek kemudahan memulai usaha, perdagangan internasional, serta mekanisme kepailitan usaha. 

Ketiga area ini merupakan fondasi penting dalam siklus hidup startup: mulai dari fase pendirian, ekspansi lintas batas, hingga skenario restrukturisasi atau exit. Kesenjangan yang lebar pada dimensi-dimensi tersebut mengindikasikan bahwa efisiensi prosedural dan kepastian sistem di Singapura masih menjadi faktor pembeda utama dalam mendukung pertumbuhan bisnis berorientasi global.

Sebaliknya, selisih yang relatif lebih tipis pada aspek ketenagakerjaan, persaingan pasar, dan penyelesaian sengketa menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukan semata pada dinamika pasar domestik, melainkan pada integrasi dan efisiensi sistemik yang menopang aktivitas bisnis berskala regional maupun internasional.

Selain regulasi, faktor fiskal memperkuat daya tarik Singapura. Negara tersebut menerapkan tarif pajak perusahaan sebesar 17 persen, lebih rendah dibandingkan Indonesia yang berada di kisaran 22 persen. Selisih ini menjadi pertimbangan penting, terutama bagi startup yang berada dalam fase pertumbuhan dan masih mengandalkan efisiensi modal. Dengan struktur pajak yang lebih kompetitif, startup memiliki ruang lebih besar untuk mengalokasikan dana ke pengembangan produk, ekspansi pasar, dan perekrutan talenta.

Oleh sebab itu, dominasi Jakarta serta meningkatnya keberadaan startup Indonesia di Singapura mencerminkan pilihan strategis pelaku usaha dalam merespons kesiapan ekosistem, baik di dalam maupun luar negeri. Peta sebaran ini menjadi potret perkembangan yang sedang berlangsung, di mana konsentrasi, ekspansi, dan peluang pertumbuhan berjalan beriringan dalam membentuk arah ekosistem startup Indonesia ke depan.

Sumber: Tech in Asia

Baca artikel lainnya